Pariaman, 12 Oktober 2025,
Curahan hati seorang Pendamping Lokal Desa Sungai Buluh Kecamatan Ungar Kabupaten Karimun Provinsi Kepulauan Riau seakan mewakili seluruh Pendamping Desa se Indonesia terkhusus nya Pendamping Lokal Desa (PLD) yang mana Pendamping Desa tingkat paling dasar yang langsung bersentuhan dengan
akar rumput masyarakat itu sendiri. Keluh kesah nya tertulis rapi puitis penuh makna sebagai sastra yang di terbitkan di blognya yaitu
Berita Harian Budak Melayu Berikut tulisan Puisi nya,
Suara Dari Balik Desa
Aku bukan pejabat berseragam rapi,
tak duduk di kursi empuk ruang ber-AC.
Aku hanya Pendamping Lokal Desa,
yang tiap hari menempuh jalan berbatu,
menggenggam harapan rakyat kecil
dengan jemari yang mulai kapalan.
Di pundakku ada beban yang tak ringan,
bukan sekadar berkas dan laporan,
tapi wajah-wajah petani yang haus pembangunan,
ibu-ibu yang menanti bantuan gizi,
anak-anak yang bertanya lirih,
“Pak, kapan sekolah kami tak lagi bocor?”
Kami bukan tak setia pada negeri,
kami hanya ingin didengar.
Sebab di balik angka-angka keberhasilan,
ada keringat yang menetes tanpa terlihat,
ada lelah yang tak tercatat dalam laporan,
ada perjuangan yang sunyi di antara paragraf kebijakan.
Wahai pemerintah,
kami tak menuntut kemewahan,
tak pula menagih sanjungan.
Kami hanya berharap sedikit kesejahteraan,
agar kami tak kalah oleh harga beras,
tak menyerah pada tagihan listrik di akhir bulan.
Kami tahu, pengabdian adalah panggilan.
Namun pengabdian pun butuh napas,
butuh tenaga untuk terus berjalan.
Kami bukan mesin program,
kami manusia yang juga ingin menafkahi keluarga,
dengan layak dan bermartabat.
Di lapangan, kami adalah jembatan
antara kebijakan dan kenyataan,
antara harapan rakyat dan keputusan di meja rapat.
Namun kadang, jembatan ini mulai rapuh,
bukan karena kami lemah,
tapi karena terlalu lama tak diperbaiki.
Kami mencintai Desa
seperti anak mencintai ibunya.
Kami setia pada rakyat kecil yang tiap hari kami temui di jalan-jalan berlumpur.
Namun tidakkah negara juga seharusnya setia,
pada kami yang menjaga nyala pembangunan dari bawah?
Jika suara kami tak sampai ke gedung tinggi,
biarlah angin sawah yang menyampaikan,
bahwa ada Pendamping Lokal Desa yang terus bertahan di antara janji dan realita,
yang bekerja dalam sunyi, meski upahnya kadang tak cukup untuk hidup.
Kami tak ingin kaya,
kami hanya ingin layak,
layak dihargai,
layak diakui,
layak hidup tanpa harus berhutang demi menunaikan tugas dari negeri yang kami cintai.
Kadang kami bertanya dalam diam,
mengapa kesejahteraan kami dianggap cukup,
padahal gaji kami tertinggal dari harga sembako,
dan perjalanan kami menembus laut
lebih berat dari angka di slip honor.
Kami bangga menjadi bagian dari Desa,
namun kami juga manusia yang lelah.
Kami ingin dihargai bukan hanya saat laporan dibutuhkan,
ingin dianggap ada bukan hanya saat bermedsos dan berdata.
Di pulau-pulau terpencil kami berdiri,
tanpa mal, tanpa kafe, tanpa libur akhir pekan.
Yang ada hanya ombak, rakyat, dan tanggung jawab.
Namun di setiap langkah kami, ada cinta yang tulus untuk negeri
yang kami jaga dari sunyi.
Kami bukan pemberontak,
kami hanyalah penyampai rindu dari pelosok,
rindu akan perhatian dan penghargaan yang adil.
Sebab pembangunan sejati bukan hanya di kota yang terang,
tetapi juga di Desa-desa kecil tempat kami menjaga cahaya agar tak padam.
Wahai penguasa negeri,
dengarlah keluh kami yang terbawa angin laut.
Ini suara Pendamping Lokal Desa yang tetap setia,
meski perut kadang lapar,
dan dompet sering kosong.
Kami tak minta banyak,
hanya ingin dipandang sama,
seperti mereka yang bekerja di pusat kota.
Sebab kami pun bagian dari merah putih.
Dan selama bendera itu berkibar di langit Desa,
kami akan tetap berdiri,
meski dalam senyap,
meski dalam kurang,
meski dalam sunyi.
Karena cinta kami pada negeri ini lebih besar dari kesejahteraan
yang belum kami nikmati.