Kamis, 11 Juni 2026

Pemdes Desa Sintuk Pariaman Utara gelar Rembug Stunting. 2 usulan prioritas disepakati: edukasi gizi & KTR serta pengadaan alat Posyandu



PARIAMAN UTARA– Pemerintah Desa Sintuk, Kecamatan Pariaman Utara, Kota Pariaman, menggelar Musyawarah Desa Rembug Stunting di Ruang Pelayanan Kantor Desa Sintuk. Kegiatan yang dihadiri Wali Nagari, BPD, Bidan Desa, kader Posyandu, PKK, tokoh masyarakat, dan orang tua balita ini bertujuan menyamakan persepsi serta menyepakati program konvergensi pencegahan stunting 2026.


Dari hasil diskusi kelompok dan pleno, musyawarah menetapkan 2 usulan prioritas yang akan dimasukkan ke RKP Desa. 


1. Sosialisasi Kesehatan Anak, Keluarga & Bahaya Merokok.  

Program ini menyasar pola asuh dan lingkungan rumah. Bidan Desa bersama kader PKK dan Posyandu akan rutin melakukan edukasi 2 bulan sekali di tiap dusun. Materinya meliputi gizi seimbang, MPASI, pentingnya ASI eksklusif, serta bahaya asap rokok bagi ibu hamil dan balita seperti ISPA dan BB lahir rendah. Pemasangan spanduk "Kawasan Tanpa Rokok" di fasilitas umum desa juga diusulkan.


2. Peningkatan Sarana Posyandu  

Untuk optimalisasi pemantauan tumbuh kembang, Posyandu di Desa Sintuk diusulkan mendapat 1 set alat antropometri standar: timbangan digital bayi/dewasa, length board, dan microtoise. Selain itu akan dilakukan perbaikan kursi tunggu, penambahan wastafel cuci tangan, serta pelatihan kader Posyandu pengisian e-PPGBM agar data balita lebih akurat.


Kepala Desa Sintuk menegaskan komitmen Pemdes untuk mengawal pelaksanaan kegiatan. "Hasil rembug ini jadi dasar kita bekerja. Stunting harus turun, dimulai dari edukasi keluarga dan penguatan layanan dasar Posyandu," ujarnya.


Kegiatan ini didampingi Tenaga Pendamping Profesional Kemendes PDTT dengan tagline "Kerja Berdampak". Dengan dua program prioritas ini, Desa Sintuk menargetkan penurunan prevalensi stunting dan peningkatan kualitas hidup balita di wilayahnya.



Reporter: [Almisadri]  

Editor: [Almisadri]  

Foto: Dokumentasi TPP Desa Sintuk



Minggu, 12 Oktober 2025

Catatan seorang Pendamping Lokal Desa



Pariaman, 12 Oktober 2025, 
Curahan hati seorang Pendamping Lokal Desa Sungai Buluh Kecamatan Ungar Kabupaten Karimun Provinsi Kepulauan Riau seakan mewakili seluruh Pendamping Desa se Indonesia  terkhusus nya Pendamping Lokal Desa (PLD) yang mana Pendamping Desa tingkat paling dasar yang langsung bersentuhan dengan akar rumput masyarakat itu sendiri. Keluh kesah nya tertulis rapi puitis penuh makna sebagai sastra yang di terbitkan di blognya yaitu  Berita Harian Budak Melayu
Berikut tulisan Puisi nya,


Suara Dari Balik Desa

Aku bukan pejabat berseragam rapi,

tak duduk di kursi empuk ruang ber-AC.

Aku hanya Pendamping Lokal Desa,

yang tiap hari menempuh jalan berbatu,

menggenggam harapan rakyat kecil

dengan jemari yang mulai kapalan.



Di pundakku ada beban yang tak ringan,

bukan sekadar berkas dan laporan,

tapi wajah-wajah petani yang haus pembangunan,

ibu-ibu yang menanti bantuan gizi,

anak-anak yang bertanya lirih,

“Pak, kapan sekolah kami tak lagi bocor?”



Kami bukan tak setia pada negeri,

kami hanya ingin didengar.

Sebab di balik angka-angka keberhasilan,

ada keringat yang menetes tanpa terlihat,

ada lelah yang tak tercatat dalam laporan,

ada perjuangan yang sunyi di antara paragraf kebijakan.



Wahai pemerintah,

kami tak menuntut kemewahan,

tak pula menagih sanjungan.

Kami hanya berharap sedikit kesejahteraan,

agar kami tak kalah oleh harga beras,

tak menyerah pada tagihan listrik di akhir bulan.



Kami tahu, pengabdian adalah panggilan.

Namun pengabdian pun butuh napas,

butuh tenaga untuk terus berjalan.

Kami bukan mesin program,

kami manusia yang juga ingin menafkahi keluarga,

dengan layak dan bermartabat.



Di lapangan, kami adalah jembatan

antara kebijakan dan kenyataan,

antara harapan rakyat dan keputusan di meja rapat.

Namun kadang, jembatan ini mulai rapuh,

bukan karena kami lemah,

tapi karena terlalu lama tak diperbaiki.



Kami mencintai Desa

seperti anak mencintai ibunya.

Kami setia pada rakyat kecil yang tiap hari kami temui di jalan-jalan berlumpur.

Namun tidakkah negara juga seharusnya setia,

pada kami yang menjaga nyala pembangunan dari bawah?



Jika suara kami tak sampai ke gedung tinggi,

biarlah angin sawah yang menyampaikan,

bahwa ada Pendamping Lokal Desa yang terus bertahan di antara janji dan realita,

yang bekerja dalam sunyi, meski upahnya kadang tak cukup untuk hidup.



Kami tak ingin kaya,

kami hanya ingin layak,

layak dihargai,

layak diakui,

layak hidup tanpa harus berhutang demi menunaikan tugas dari negeri yang kami cintai.



Kadang kami bertanya dalam diam,

mengapa kesejahteraan kami dianggap cukup,

padahal gaji kami tertinggal dari harga sembako,

dan perjalanan kami menembus laut

lebih berat dari angka di slip honor.



Kami bangga menjadi bagian dari Desa,

namun kami juga manusia yang lelah.

Kami ingin dihargai bukan hanya saat laporan dibutuhkan,

ingin dianggap ada bukan hanya saat bermedsos dan berdata.



Di pulau-pulau terpencil kami berdiri,

tanpa mal, tanpa kafe, tanpa libur akhir pekan.

Yang ada hanya ombak, rakyat, dan tanggung jawab.

Namun di setiap langkah kami, ada cinta yang tulus untuk negeri

yang kami jaga dari sunyi.



Kami bukan pemberontak,

kami hanyalah penyampai rindu dari pelosok,

rindu akan perhatian dan penghargaan yang adil.

Sebab pembangunan sejati bukan hanya di kota yang terang,

tetapi juga di Desa-desa kecil tempat kami menjaga cahaya agar tak padam.



Wahai penguasa negeri,

dengarlah keluh kami yang terbawa angin laut.

Ini suara Pendamping Lokal Desa yang tetap setia,

meski perut kadang lapar,

dan dompet sering kosong.



Kami tak minta banyak,

hanya ingin dipandang sama,

seperti mereka yang bekerja di pusat kota.

Sebab kami pun bagian dari merah putih.



Dan selama bendera itu berkibar di langit Desa,

kami akan tetap berdiri,

meski dalam senyap,

meski dalam kurang,

meski dalam sunyi.



Karena cinta kami pada negeri ini lebih besar dari kesejahteraan

yang belum kami nikmati.


Kamis, 09 Oktober 2025

Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Andre Rosiade Mengunjungi SMPN 6 Kota Pariaman





 Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Andre Rosiade, mengunjungi SMP N 6 Pariaman pada 8 Oktober 2025 untuk meninjau kondisi sekolah yang rusak. Dalam kunjungannya, Andre Rosiade berjanji untuk mengalokasikan dana perbaikan ruang kelas dan toilet sekolah melalui dana Bantuan Presiden (Banpres).


Andre Rosiade didampingi oleh beberapa pejabat daerah, termasuk:

- Anggota DPRD Kota Pariaman: Fitri Nora

- Plt Kadis Pendidikan Pemuda dan Olahraga: Hertati Taher

- Kadis PUPRP: Riko Jamal

- Kadis Kesehatan: Nazifah

- Kabag Umum: Afdila

- Kepala Sekolah SMP N 6 Pariaman: Eli Suryani


Dalam kesempatan tersebut, Andre Rosiade juga menerima proposal perbaikan sekolah dari Wali Kota Pariaman, Yota Balad, yang mencakup 13 SD dan 6 SMP di Kota Pariaman yang membutuhkan perbaikan. Andre Rosiade berjanji untuk membawa proposal tersebut ke Menteri Sekretaris Negara untuk diteruskan ke Presiden ¹.

Source : https://pariamankota.go.id/berita/andre-rosiade-janjikan-perbaikan-sekolah-rusak-di-kota-pariaman-lewat-banpres


Pemdes Desa Sintuk Pariaman Utara gelar Rembug Stunting. 2 usulan prioritas disepakati: edukasi gizi & KTR serta pengadaan alat Posyandu

PARIAMAN UTARA– Pemerintah Desa Sintuk, Kecamatan Pariaman Utara, Kota Pariaman, menggelar Musyawarah Desa Rembug Stunting di Ruang Pelayana...